Kalimat yang Ringan di Lisan Berat di TImbangan
Kecerdasan dalam beribadah tercermin dari kemampuan seorang Muslim memahami waktu, tempat, dan amalan yang memiliki nilai keutamaan paling besar di sisi Allah, sehingga ibadah yang dilakukan tidak hanya secara kuantitas, tetapi juga unggul secara kualitas. Islam mengajarkan bahwa satu malam Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan, shalat di Masjidil Haram bernilai seratus ribu kali lipat, dan shalat di Masjid Nabawi dilipatgandakan hingga seribu kali dibandingkan shalat di masjid lain; demikian pula shalat berjamaah, sedekah di waktu sempit, puasa sunnah pada hari-hari utama, serta amal di sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang memiliki keistimewaan khusus. Kesadaran akan keutamaan-keutamaan ini menunjukkan kecerdasan spiritual, yakni memilih amalan yang ringan namun bernilai besar, sederhana namun berpahala berlipat. Pada titik inilah dzikir menempati posisi yang sangat strategis, karena ia dapat dilakukan kapan saja tanpa batas ruang dan waktu, namun memiliki bobot yang sangat berat di sisi Allah, membersihkan hati, menenangkan jiwa, dan menjadi amalan yang dicintai oleh-Nya, sehingga dzikir menjadi bentuk ibadah paling cerdas yang dapat menyertai seluruh aktivitas seorang hamba sepanjang hidupnya.
ٱلَّذِينَءَامَنُواْوَتَطۡمَئِنُّقُلُوبُهُمبِذِكۡرِٱللَّهِۗأَلَابِذِكۡرِٱللَّهِتَطۡمَئِنُّٱلۡقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. |Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra¦d, [13:28])
Melallui tulisan ini kita akan membahas sebauh hadis yang mulia yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menyampaikan pesan yang sangat mendalam tentang keutamaan dzikir. Beliau bersabda:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ)) [متفق عليه: ب 6682، م 2694]
" dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan amal, dan dicintai oleh Allah Yang Maha Pengasih, yaitu Subhaanallaahi wabihamdih dan Subhaanallaahil ‘adziim." (HR. Bukhari 6682 dan Muslim 2694)
Hadis ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Amalan yang tidak memerlukan tenaga besar, waktu panjang, maupun biaya, justru diberi nilai yang sangat tinggi di sisi Allah. Dzikir ini dapat diucapkan kapan saja dan di mana saja, dalam kondisi lapang maupun sempit, tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari. Ringannya di lisan menjadi bukti bahwa Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya dalam beribadah.
Meskipun ringan dalam pelaksanaannya, dua kalimat dzikir ini memiliki bobot yang sangat berat dalam timbangan amal pada hari kiamat. Beratnya nilai dzikir tersebut terletak pada kandungan maknanya yang sangat mendasar dalam ajaran tauhid. Lafaz Subhaanallaah mengandung pengakuan akan kesucian Allah dari segala kekurangan dan ketidaksempurnaan, sementara wabihamdih merupakan pengakuan bahwa seluruh pujian dan nikmat berasal dari Allah semata. Adapun lafaz Subhaanallaahil ‘adziim menegaskan keagungan Allah yang melampaui segala sesuatu. Dzikir ini menyatukan unsur penyucian, pujian, dan pengagungan kepada Allah dalam satu rangkaian yang utuh.
Keistimewaan tertinggi dari dua kalimat ini adalah bahwa keduanya dicintai oleh Allah Yang Maha Pengasih. Cinta Allah terhadap suatu amalan menunjukkan kemuliaan amalan tersebut serta kedudukan istimewa bagi orang yang mengamalkannya. Ketika seorang hamba senantiasa membiasakan dzikir ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, maka ia sedang menapaki jalan menuju kedekatan dengan Allah, ketenangan jiwa, dan keberkahan hidup.
Hadis ini juga memberikan pelajaran penting agar seorang Muslim tidak meremehkan amalan yang tampak kecil. Dalam pandangan manusia, nilai suatu amalan sering diukur dari bentuk lahiriahnya. Namun dalam pandangan Allah, nilai amal ditentukan oleh keikhlasan, makna, dan ketundukan hati. Dzikir yang sederhana namun dilakukan secara konsisten dan penuh penghayatan dapat menjadi pemberat amal yang menentukan keselamatan seseorang di akhirat kelak.
Dengan demikian, membiasakan lisan untuk senantiasa berdzikir, khususnya dengan dua kalimat yang diajarkan Rasulullah ﷺ ini, merupakan bentuk ibadah yang sangat dianjurkan. Dzikir tersebut tidak hanya menjadi sarana untuk mengingat Allah, tetapi juga menjadi jalan untuk membersihkan hati, menumbuhkan rasa syukur, serta meneguhkan keimanan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa mengingat-Nya, mencintai dzikir, dan dicintai oleh-Nya. Aamiin.
Pekanbaru, 1 Rajab 1447 H